Dariku,
untuk mu di masa lalu…
Hai, aku sekarang sudah berada dikelas 11, tahun kedua SMA. Hebat, kan? Dulu kau cuma bisa terkagum
melihat kakak-kakak tetanggamu memakai baju putih abu-abu. Dan sekarang aku
juga sudah seperti mereka. Aku bahkan sekarang sekolah di luar kota, jauh dari
keluarga. Aku hidup mandiri
sekarang. Mencuci baju, membersihkan rumah dan kamar, menyetrika,
memasak, semuanya…..
Aku melakukan semuanya sendiri
sekarang. Tidak seperti dulu. kau
pasti terkejut ya? Kau
dulu yang dibilang anak Mama karena sikap mu yang manja dan selalu mengandalkan
ibu, kan? Haha…. Ya, sekarang aku sudah
berubah.
Tujuan
ku menulis surat ini adalah, ada
yang aku ingin sampaikan
kepadamu. Aku ingin minta maaf
karena sepertinya sekarang
aku belum bisa mewujudkan semua cita-cita dan keinginan mu. Belum. kau dulu punya banyak
keinginan, bukan? Bercita-cita ingin
menjadi dokter, menjadi orang pintar,
kaya, menaikkan haji orangtua, membuat
rumah sendiri, dan bahkan
sekolah ke
luar negri. Dan, ah, aku juga ingat keinginanmu sesaat sebelum
kau mendaftar di SMA. Saat itu kau mendapatkan teman yang berasal dari Mexico, saat itu dia sedang berada di
Korea Selatan -negara yang sangat ingin kau kunjungi- dan kau banyak bercerita
dengannya, hingga terbesit
keinginan ingin sepertinya, mendapat beasiswa ke KorSel. Dan kau waktu
itu sangat bersemangat, apalagi kau tahu kalau SMA yang akan kau pilih adalah sekolah
yang sudah banyak mengirimkan siswanya ke luar negri. Hal itu memberi banyak harapan padamu. Ya, kau pun begitu menggebu-gebu, sangat senang,
membayangkan kau
yang nantinya akan menghabiskan tahun keduamu diKorSel, bersekolah disana, homestay di sana, melihat berbagai
konser, pergi ketempat wisata dengan cuma-cuma -ya, karena
semuanya dalam rangka promosi-, makan makanan khas Korea yang sudah lama ingin
kau cicipi, dan berbagai pengalaman
berharga, ah ya, bahkan kau
berkeinginan bertemu idola mu
secara langsung,
kan?. Tapi, sayang, semua harapanmu itu tak terwujud oleh ku. Aku
sekarang hanya menghabiskan tahun keduaku di SMA itu, masih di negara ini, tidak di luar negri.
Maaf. Aku mengecewakanmu. Aku lupa dengan semua impianmu
itu, karena tahun pertamaku tidak
berjalan lancar seperti yang kau harapkan -saat kau di kelas 9-. Dan juga,
keinginan mu yang mana aku akan menjadi anak rajin -mendekati cupu-
saat tahun pertama juga tak terlaksana oleh ku. Aku masih sering
bermalas-malasan. Aku tidak memprioritaskan tugasku. Aku menganggap enteng
pelajaran yang sudah ku pahami. Ya, aku tahu semua itu salah. Itu tidak sesuai
dengan rencanamu, kan? Kau berencana membuat tahun pertamaku sibuk dengan belajar, tugas-tugas dan belajar lagi,
membuat aku menjadi orang yang haus ilmu. Aku sangat menghargai
itu, aku setuju dengan rencanamu,
sangat…. tapi aku tak melakukan nya. Aku melupakannya. Entahlah, seperti yang sudah ku katakan,
tahun pertamaku tidak berjalan mulus. Berbagai masalah datang.
Kau tidak menyangka bahwa mengawali hidup sendiri sebagai
anak berumur 16 tahun itu ternyata tidak mudah. Yang ada dibayanganmu saat itu
adalah, kau bisa hidup bebas tanpa harus berhubungan dengan lingkungan sosial mu. Hahaha….pemikiran
macam apa itu. Kenyataannya, pertama kali aku sampai di kos -pertama- ku, aku harus
bersosialisasi dengan kakak-kakak kos ku. Mereka tidak 2 atau 3 orang saja,
tapi 7 bahkan lebih -saat teman mereka datang- . Aku harus menyapa mereka,
berbasa-basi dengan mereka, dan saat aku diam, aku disindir.
Itu membuat ku tidak nyaman. Sebenarnya ini juga berasal dari kesalahanku yang
waktu itu tidak memilah-milah kos-kosan yang akan aku tempati dengan baik. Waktu itu
aku kasihan melihat Ama yang sudah tampak lelah -karena kondisi Ama tak mengizinkan- ditambah lagi
gerimis. Aku takut keadaan Ama memburuk, Aku tidak ingin melihat beliau jatuh sakit
begitu kembali ke rumah. Tapi syukurlah, aku pindah dari kos itu dihari kedua. Tapi bukan berarti aku
terlepas dari hal-hal “sosial”.
Justru, ibu kos ku sangat ramah, jadi
mau tak mau aku juga harus bersikap ramah padanya. Aku cukup tau sopan
santun.
Terlepas dari lingkungan tempat tinggal ku, masih ada
lingkungan sekolah yang menanti. Kau ingat, keputusanmu yang kau buat saat itu, kau ingin aku untuk
tidak berteman dengan siapapun ditahun pertama agar bisa fokus belajar???
Hahaha……itu terlalu mendramatisir, tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya. Aku
tidak bisa bertindak seperti orang asing di kelas dan di sekolah. Itu justru
akan menghambat proses belajarku. Aku
harus melewati masa peralihan ku, dan itu harus dilakukan dengan bergaul dengan
orang mereka. Dan lagi, ternyata kehadiran teman baru -karena mereka semua
memang baru bagiku- sangatlah menyenangkan. Ya, aku mendapatkan teman yang
baik. Mereka bisa menjadi tempat curhat, penyemangat, tempatku berbagi kebahagiaan,
dan juga kesedihan.
Lagi, aku
masih punya masalah lain. Di tahun pertama, aku memilih untuk masuk kelas OSN. Hei, ternyata aku tidak sepenuhnya melupakan impianmu.
Haha, ya kelas OSN ini bisa menjadi salah satu ajang yang bisa membawaku ke
luar negri. Terang saja, tahun lalu senior ku dikirim ke U.S karena memenangkan
OSN di tingkat nasional. Hebat, kan? Karena itulah, aku ingin masuk kelas ini.
Tapi tidak mudah, masuk ke kelas ini melalui tes, akademik tentunya. Aku sempat
tidak percaya diri dengan kemampuanku. Karena, sekolahku juga telah melakukan
penyaringan masuk
sebelumnya. Kau tau kan? Mulai dari administrasi, tes akademik,
psikologi, dan TOEFL. Mereka yang lulus pastinya bukan orang yang sembarangan
kan. Ya, kau tau itu. Karena
kau lah yang melakukan semuanya untukku. Tapi aku tetap berusaha,
meskipun waktu itu aku tidak sempat mempersiapkan dengan matang. Dan, aku lulus. Aku bahagia
bukan main. Aku bisa masuk kelas OSN dan
nantinya bisa belajar disatu bidang yang aku pilih, itu terasa akan
sangat menyenangkan. Tapi, kebahagiaan ku menguap saat aku melihat wajah-wajah
mereka yang juga lulus ke kelas ini. Aku menjadi gugup. Otakku otomatis
memberitahukan bahwa mereka adalah orang-orang pintar dengan kemampuan hebat,
anak rajin, dan egois. Semua presepsi itu semakin membuatku meresa kecil. Dan ini menimbulkan
stress lebih awal dari yang aku perkirakan, aku membutuhkan mu disaat itu. Ini
mungkin menjadi salah satu penyebab yang membuatku tidak fokus. Aku sibuk memikirkan mereka.
Lupa dengan tujuan awal, impianmu. Tapi waktu berjalan, perkenalan, belajar,
dan materi OSN. Semua nya kami jalani dengan baik diawal. Ya, diawal. Karena beberapa bulan setelah
itu, kelas kami dilanda oleh sebuah wabah yang muncul entah dari mana. Seluruh
isi kelas berubah menjadi pemalas, tukang ribut, dan berperilaku tak baik.
Bahkan kami secara berjamaah pernah diceramahi guru Konseling. Memalukan. Kelas OSN yang sangat
dibanggakan kini berubah menjadi
sarang pemalas -meski ada
minoritas yang masih rajin, terhindar dari wabah-.
Dan, satu lagi kesalahanku. Kau dulu pernah berjanji untuk tidak menyukai
siapapun lagi kan? Karena kau
pernah menyukai orang yang sama dengan karibmu. Hal ini baru kau ketahui saat
kau dikelas 9. Kau sedih, karena kau menganggap dirmu sudah melukai
teman dekatmu sendiri. Kau kecewa. Dan memutuskan untuk tidak menyukai orang
lagi. Tapi, janjimu aku rusak. Aku mengingkarinya. Maaf. Aku juga sempat
berontak saat itu. Aku ingat dengan janjimu. Aku ingat. Aku tidak ingin
menyakiti mu lagi. Tapi, aku tak bisa melawan sesuatu dalam diriku yang membuatku
harus melanggar janji itu. Dan……..aku menyakitimu lagi. Aku membuat lukamu terbuka kembali.
Maafkan aku. Apa kau
marah? Aku harap tidak. Dan sekarang, aku sudah mulai berusaha untuk tidak
menyukainya lagi. Aku berusaha menghapusnya demi impianmu. Semoga ini bisa
membantu.
Beralih
dari kesalahan-kesalahan yang ku lakukan. Aku rasa kau tidak perlu
sepenuhnya kecewa denganku. Karena, dibalik semua masalah itu, aku tetap bisa
membanggakan beberapa hal padamu. Ditahun pertama dan tahun kedua semester
awal, aku mendapat nilai yang baiks. Dan
aku puas. Itu hasil jerih payahku. Berkat bekal darimu yang dulu sudah terlatih
untuk jujur dan percaya pada diri
sendiri. Aku
juga mendapat peningkatan dibidang spiritual. Keadaan rohanimu sudah meningkat. Aku mengisinya dengan
berbagai hal baru. Aku senang, karena tidak semua remaja bisa melakukan
perbaikan rohani ini,
kan? Kau harus berterimakasih padaku. Haha. Ditambah lagi, dengan berbagai
pengalaman dan pengetahuan yang aku dapat selama di Sekolah Menengah. Ini sangat berguna untuk kita
nantinya.
Dan sekarang, lembaran baru sudah dimulai. Aku sengaja
menulis ini untuk mu. Karena Aku akan memulai hal baru. Memulai perjuangan baru untuk mu. Demi
cita-cita mu dan semua impian yang sudah lama kau nantikan. Aku akan melakukan
yang terbaik untuk mu. Melakukan berbagai usaha demi keberhasilan kita dimasa
depan. Kembali mengumpulkan semua yang pernah aku lupakan. Aku akan
merealisasikannya. Membuatmu menjadi
orang yang berhasil. Kau ingin membahagiakan keluarga mu dan membuat
mereka bangga, kan? Aku juga. Aku akan mengerahkan segala tenaga dan
kemampuanku untuk mendapat kan yang terbaik. Semuanya demi cita-cita dan impian
kita. Jadi, aku mohon. Bimbing aku dengan semua semangat mu itu. Buat aku
percaya diri dan tetap jujur seperti yang kau lakukan dulu. Datanglah saat kau melihatku
bermalas-malasan dan kehilangan semangat. Datanglah saat aku mengeluh akan
berbagai tugas yang menantiku. Tegur aku, saat aku tampak mulai melupakanmu lagi. Beradalah di
sampingku saat masalah datang menghampiriku, bantu aku menyelesaikannya.Kau adalah harapanku dan aku adalah harapanmu. Dan kita akan
selalu bersama hingga nanti, di masa depan yang kita impikan.
Salam
dari ku,
dirimu
di masa sekarang.
2 Kommentarer:
bagus ka *o*)b, jadi ikutan ngomong ama diri sendiri juga '-')
Post a Comment