Welcome to my another World. You can find "another" me right here LOL

January 09, 2014

Your Dream is My Dream

Dariku,
untuk mu di masa lalu…




Hai, aku sekarang sudah berada dikelas 11, tahun kedua SMA. Hebat, kan? Dulu kau cuma bisa terkagum melihat kakak-kakak tetanggamu memakai baju putih abu-abu. Dan sekarang aku juga sudah seperti mereka. Aku bahkan sekarang sekolah di luar kota, jauh dari keluarga. Aku hidup mandiri sekarang. Mencuci baju, membersihkan rumah dan kamar, menyetrika, memasak, semuanya….. Aku melakukan semuanya sendiri sekarang. Tidak seperti dulu. kau pasti terkejut ya? Kau dulu yang dibilang anak Mama karena sikap mu yang manja dan selalu mengandalkan ibu, kan? Haha…. Ya, sekarang aku sudah berubah.

Tujuan ku menulis surat ini adalah, ada yang aku ingin sampaikan kepadamu. Aku ingin minta maaf karena sepertinya sekarang aku belum bisa mewujudkan semua cita-cita dan keinginan mu. Belum. kau dulu punya banyak keinginan, bukan? Bercita-cita ingin menjadi dokter, menjadi orang pintar,
kaya, menaikkan haji orangtua, membuat rumah sendiri, dan bahkan sekolah ke luar negri. Dan, ah, aku juga ingat keinginanmu sesaat sebelum kau mendaftar di SMA. Saat itu kau mendapatkan teman  yang berasal dari Mexico, saat itu dia sedang berada di Korea Selatan  -negara yang sangat ingin kau kunjungi- dan kau banyak bercerita dengannya, hingga terbesit keinginan ingin sepertinya, mendapat beasiswa ke KorSel. Dan kau waktu itu sangat bersemangat, apalagi kau tahu kalau SMA yang akan kau pilih adalah sekolah yang sudah banyak mengirimkan siswanya ke luar negri. Hal itu memberi banyak harapan padamu. Ya, kau pun begitu menggebu-gebu, sangat senang, membayangkan kau yang nantinya akan menghabiskan tahun keduamu diKorSel, bersekolah disana, homestay di sana, melihat berbagai konser, pergi ketempat wisata dengan cuma-cuma  -ya, karena semuanya dalam rangka promosi-, makan makanan khas Korea yang sudah lama ingin kau cicipi,  dan berbagai pengalaman berharga, ah ya, bahkan kau berkeinginan bertemu idola mu secara langsung, kan?. Tapi, sayang, semua harapanmu itu tak terwujud oleh ku. Aku sekarang hanya menghabiskan tahun keduaku di SMA itu, masih di negara ini, tidak di luar negri.

Maaf. Aku mengecewakanmu. Aku lupa dengan semua impianmu itu, karena tahun pertamaku tidak berjalan lancar seperti yang kau harapkan -saat kau di kelas 9-. Dan juga, keinginan mu yang mana aku akan menjadi anak rajin  -mendekati cupu- saat tahun pertama juga tak terlaksana oleh ku. Aku masih sering bermalas-malasan. Aku tidak memprioritaskan tugasku. Aku menganggap enteng pelajaran yang sudah ku pahami. Ya, aku tahu semua itu salah. Itu tidak sesuai dengan rencanamu, kan? Kau berencana membuat tahun pertamaku sibuk dengan belajar, tugas-tugas dan belajar lagi, membuat aku menjadi orang yang haus ilmu. Aku sangat menghargai itu, aku setuju dengan rencanamu, sangat…. tapi aku tak melakukan nya. Aku melupakannya. Entahlah, seperti yang sudah ku katakan, tahun pertamaku tidak berjalan mulus. Berbagai masalah datang.

Kau tidak menyangka bahwa mengawali hidup sendiri sebagai anak berumur 16 tahun itu ternyata tidak mudah. Yang ada dibayanganmu saat itu adalah, kau bisa hidup bebas tanpa harus berhubungan dengan lingkungan sosial mu. Hahaha….pemikiran macam apa itu. Kenyataannya, pertama kali aku sampai di kos -pertama- ku, aku harus bersosialisasi dengan kakak-kakak kos ku. Mereka tidak 2 atau 3 orang saja, tapi 7 bahkan lebih -saat teman mereka datang- . Aku harus menyapa mereka, berbasa-basi dengan mereka, dan saat aku diam,  aku disindir. Itu membuat ku tidak nyaman. Sebenarnya ini juga berasal dari kesalahanku yang waktu itu tidak memilah-milah kos-kosan yang akan aku tempati dengan baik. Waktu itu aku kasihan melihat Ama yang sudah tampak lelah -karena kondisi Ama tak mengizinkan- ditambah lagi gerimis. Aku takut keadaan Ama memburuk, Aku tidak ingin melihat beliau jatuh sakit begitu kembali ke rumah. Tapi syukurlah, aku pindah dari kos itu dihari kedua. Tapi bukan berarti aku terlepas dari hal-hal “sosial”. Justru, ibu kos ku sangat ramah, jadi mau tak mau aku juga harus bersikap ramah padanya. Aku cukup tau sopan santun.

Terlepas dari lingkungan tempat tinggal ku, masih ada lingkungan sekolah yang menanti. Kau ingat, keputusanmu yang kau buat saat itu, kau ingin aku untuk tidak berteman dengan siapapun ditahun pertama agar bisa fokus belajar??? Hahaha……itu terlalu mendramatisir, tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa bertindak seperti orang asing di kelas dan di sekolah. Itu justru akan menghambat proses belajarku. Aku harus melewati masa peralihan ku, dan itu harus dilakukan dengan bergaul dengan orang mereka. Dan lagi, ternyata kehadiran teman baru -karena mereka semua memang baru bagiku- sangatlah menyenangkan. Ya, aku mendapatkan teman yang baik. Mereka bisa menjadi tempat curhat, penyemangat, tempatku berbagi kebahagiaan, dan juga kesedihan.

Lagi, aku masih punya masalah lain. Di tahun pertama, aku memilih untuk masuk kelas OSN. Hei, ternyata  aku tidak sepenuhnya melupakan impianmu. Haha, ya kelas OSN ini bisa menjadi salah satu ajang yang bisa membawaku ke luar negri. Terang saja, tahun lalu senior ku dikirim ke U.S karena memenangkan OSN di tingkat nasional. Hebat, kan? Karena itulah, aku ingin masuk kelas ini. Tapi tidak mudah, masuk ke kelas ini melalui tes, akademik tentunya. Aku sempat tidak percaya diri dengan kemampuanku. Karena, sekolahku juga telah melakukan penyaringan masuk sebelumnya. Kau tau kan? Mulai dari administrasi, tes akademik, psikologi, dan TOEFL. Mereka yang lulus pastinya bukan orang yang sembarangan kan. Ya, kau tau itu. Karena kau lah yang melakukan semuanya untukku. Tapi aku tetap berusaha, meskipun waktu itu aku tidak sempat mempersiapkan dengan matang. Dan, aku lulus. Aku bahagia bukan main. Aku bisa masuk kelas OSN dan  nantinya bisa belajar disatu bidang yang aku pilih, itu terasa akan sangat menyenangkan. Tapi, kebahagiaan ku menguap saat aku melihat wajah-wajah mereka yang juga lulus ke kelas ini. Aku menjadi gugup. Otakku otomatis memberitahukan bahwa mereka adalah orang-orang pintar dengan kemampuan hebat, anak rajin, dan egois. Semua presepsi itu semakin membuatku meresa kecil. Dan ini menimbulkan stress lebih awal dari yang aku perkirakan, aku membutuhkan mu disaat itu. Ini mungkin menjadi salah satu penyebab yang membuatku  tidak fokus. Aku sibuk memikirkan mereka. Lupa dengan tujuan awal, impianmu. Tapi waktu berjalan, perkenalan, belajar, dan materi OSN. Semua nya kami jalani dengan baik diawal. Ya, diawal. Karena beberapa bulan setelah itu, kelas kami dilanda oleh sebuah wabah yang muncul entah dari mana. Seluruh isi kelas berubah menjadi pemalas, tukang ribut, dan berperilaku tak baik. Bahkan kami secara berjamaah pernah diceramahi guru Konseling. Memalukan. Kelas OSN yang sangat dibanggakan kini berubah menjadi sarang pemalas -meski ada minoritas yang masih rajin, terhindar dari wabah-.

Dan, satu lagi kesalahanku. Kau dulu pernah berjanji untuk tidak menyukai siapapun lagi kan? Karena kau pernah menyukai orang yang sama dengan karibmu. Hal ini baru kau ketahui saat kau dikelas 9. Kau sedih, karena kau menganggap dirmu sudah melukai teman dekatmu sendiri. Kau kecewa. Dan memutuskan untuk tidak menyukai orang lagi. Tapi, janjimu aku rusak. Aku mengingkarinya. Maaf. Aku juga sempat berontak saat itu. Aku ingat dengan janjimu. Aku ingat. Aku tidak ingin menyakiti mu lagi. Tapi, aku tak bisa melawan sesuatu dalam diriku yang membuatku harus melanggar janji itu. Dan……..aku menyakitimu  lagi. Aku membuat lukamu terbuka kembali. Maafkan aku. Apa kau marah? Aku harap tidak. Dan sekarang, aku sudah mulai berusaha untuk tidak menyukainya lagi. Aku berusaha menghapusnya demi impianmu. Semoga ini bisa membantu.

Beralih dari kesalahan-kesalahan yang ku lakukan. Aku rasa kau tidak perlu sepenuhnya kecewa denganku. Karena, dibalik semua masalah itu, aku tetap bisa membanggakan beberapa hal padamu. Ditahun pertama dan tahun kedua semester awal,  aku mendapat nilai yang baiks. Dan aku puas. Itu hasil jerih payahku. Berkat bekal darimu yang dulu sudah terlatih untuk jujur dan  percaya pada diri sendiri. Aku juga mendapat peningkatan dibidang spiritual. Keadaan rohanimu sudah meningkat. Aku mengisinya dengan berbagai hal baru. Aku senang, karena tidak semua remaja bisa melakukan perbaikan rohani ini, kan? Kau harus berterimakasih padaku. Haha. Ditambah lagi, dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan yang aku dapat selama di Sekolah Menengah. Ini sangat berguna untuk kita nantinya.

Dan sekarang, lembaran baru sudah dimulai. Aku sengaja menulis ini untuk mu. Karena Aku akan memulai hal baru. Memulai perjuangan baru untuk mu. Demi cita-cita mu dan semua impian yang sudah lama kau nantikan. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mu. Melakukan berbagai usaha demi keberhasilan kita dimasa depan. Kembali mengumpulkan semua yang pernah aku lupakan. Aku akan merealisasikannya. Membuatmu menjadi orang yang berhasil. Kau ingin membahagiakan keluarga mu dan membuat mereka bangga, kan? Aku juga. Aku akan mengerahkan segala tenaga dan kemampuanku untuk mendapat kan yang terbaik. Semuanya demi cita-cita dan impian kita. Jadi, aku mohon. Bimbing aku dengan semua semangat mu itu. Buat aku percaya diri dan tetap jujur seperti yang kau lakukan dulu. Datanglah saat kau melihatku bermalas-malasan dan kehilangan semangat. Datanglah saat aku mengeluh akan berbagai tugas yang menantiku. Tegur aku, saat aku tampak mulai melupakanmu lagi. Beradalah di sampingku saat masalah datang menghampiriku, bantu aku menyelesaikannya.Kau adalah harapanku dan aku adalah harapanmu. Dan kita akan selalu bersama hingga nanti, di masa depan yang kita impikan.



Salam dari ku,

dirimu di masa sekarang.

2 Kommentarer:

Novrizen
This comment has been removed by the author.
Novrizen

bagus ka *o*)b, jadi ikutan ngomong ama diri sendiri juga '-')

Post a Comment