Happy Sunday Everyone~~~~
Setelah lama tidak mem-posting, kali ini saya ingin berbagi cerpen. FYI, cerpen ini adalah cerpen PERTAMA saya yang berhasil dibuat sampai end. *prok prok prok
Oh ya, FYI lagi, ini cerpen terinspirasi dari salah satu ff (FanFiction) yang saya baca dari Asianfanfic. Tapi saya ga plagiat ya.
Oke, udah itu aja cuap-cuapnya.
Sorry kalo cerpen nya jelek ya~~
Selamat membaca dan berikan komen ya~~~
********
02 September 2013
KRRIIINNNGGG!!!!!
Jam digital yang ada diatas meja itu berdering,
menunjukkan pukul 6.30. Di dalam kamar itu terlihat seorang gadis dengan
malasnya menjangkau dan mematikan jam yang terkutuk itu. Merasa terusik dengan
suara nyaring yang hampir saja merusak gendang telinganya. Dengan badan yang
dipaksa untuk bangun, Ia melihat ke arah jam terkutuk itu, dan....
“Astaga!!!! 6.30??!! Aaaaaa......!!!!” Gadis
itu langsung terbirit ke kamar mandi, bersiap dan dalam waktu 10 menit sudah
lengkap dengan pakaian sekolah nya. Pada seragam gadis itu terlihat badge
dengan nama Kana Juanda.
Ia segera keluar dari apartemen nya dan bergegas
menuju halte. Haah....nasib baik, bus menuju sekolahnya datang tepat saat Kana
sampai di halte.
Kana memilih tempat duduk yang paling nyaman.
Tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di pikirannya. Matanya menerawang. Dia
merasa kesepian. 2 minggu yang lalu, teman baiknya, pergi meninggalkannya.
10 Juli 2013
Kana’s POV
“Haaaah........aku capek. Kelas olahraga hari
ini menguras banyak tenaga. Huufftt........” Loria langsung menghempaskan
badannya ke atas kasur. Dia benar-benar tampak letih dan......sedikit pucat.
“Dasar cewek lemah. Makanya, rajin latihan
fisik donk. Biar badanmu kuat dikit. Sudah berkali-kali ku ajak latihan, kau
menolak terus.”
“Sudah aku bilang kan, aku tidak bisa. Aku
tidak akan bisa berteman dengan hal-hal fisik seperti itu. Tubuhku tidak kuat
sepertimu” Aku selalu tidak mengerti dengan perkataannya ini, kenapa dia tidak
bisa latihan sedikitpun. Dia tidak bisa bekerja dengan hal berat. Dan dia akan
selalu pucat setelah kelas olahraga. Sudah lama kami tinggal bersama tapi dia
tidak pernah memberi penjelasan lebih jauh tentang hal itu.
Ya, kami tidak tinggal dengan orangtua kami. Aku
dan orangtua ku membuat kesepakatan, aku akan tinggal di sebuah apartemen
sendirian saat masuk SMA. Kata mereka, ini akan membantu ku dalam belajar hidup
mandiri demi masa depanku. Yaaah, katanya biar jadi ibu yang baik dimasa depan.
Aku rasa mereka terlalu berpikir jauh. Tapi, aku juga tidak menyangkal, toh ini
demi kebaikanku juga. Selain itu, aku bersedia tinggal di apartemen karena
orangtuaku selalu pulang pergi keluar negri untuk berbisnis. Sebagai anak
tunggal, aku merasa jenuh dirumah sendirian. Setidaknya dengan tinggal di
daerah lain, aku bisa benar-benar bisa menyendiri, terlebih aku tidak begitu
suka keramaian. Dan akhirnya mereka
memilih sebuah apartemen yang tidak terlalu jauh dari Sekolahku. Dan, Loria
Aston, gadis keturunan Inggris-Indonesia, putri dari teman dekat ayahku,
memutuskan untuk tinggal di Indonesia dan melanjutkan sekolah di Jakarta. Aku
yang sudah tinggal di apartemen sendiri saat itu, dengan senang hati menerima
kedatangan Loria. Dan dengan kedatangan Loria, menurutku tidak buruk. Loria
merupakan gadis yang periang dan figur seorang kakak yang baik, harapan ku yang
ingin memiliki seorang kakak terwujud dengan adanya Loria. Aku senang tinggal
dengannya.
“Hey, Loria kau tampak pucat, apa kau sakit?”
“Benarkah? Ah, aku rasa ini karena terlalu kelelahan
saja. Aku akan minum vitamin nanti. Jangan khawatir.” Dia tersenyum, tapi aku
tetap tidak lega dengan jawabannya. Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Dia
terlalu sering pucat. Mana mungkin aku tidak khawatir.
18 Agustus 2013
Semua pertanyaan yang ada dikepala ku terjawab
sekarang. Sekarang aku sedang berada di Rumah Sakit, tepatnya dikamar dimana
Loria dirawat. Sepulang sekolah aku selalu mampir kesini. Sudah sebulan semenjak
pertama kali Ia dibawa ke RS ini. Dan sudah 3 minggu dia tidak sadarkan diri, koma.
Beberapa hari setelah dia mengeluh lelah dan
terlihat pucat, kondisinya mendadak drop. Aku yang tidak tahu apa-apa langsung
panik dan menelpon orangtuaku. Untunglah mereka sekarang sedang berada di
Jakarta, dan mereka datang seiring dengan sirine ambulance. Loria langsung
dilarikan ke UGD. Aku benar-benar panik. Yang dapat aku lakukan saat itu hanya
berdo’a, berharap yang terbaik untuk Loria.
Ternyata, itulah alasan kenapa Ia terlihat
sangat lelah dan sering terlihat pucat. Kanker batang otak yang dideritanya
semakin berkembang. Ternyata selama ini, secara diam-diam dia meminum semua
obat yang rutin dikirimkan oleh ayahnya. Dia tidak memilih kemo untuk
pengobatannya. Karena, kata ayahnya itu hanya akan memperburuk kondisinya. Aku
tidak menyangka, Loria yang begitu riang dan selalu tersenyum pada semua irang ini sedang berjuang melawan
kanker yang tengah bersarang dalam dirinya. Kedatangannya ke Indonesia pun
ternyata adalah salah satu upaya agar Ia dapat meninggalkan semua aktivitasnya.
Karena Loria adalah murid yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan. Itu tidak
baik bagi kesehatannya. Ayahnya memutuskan untuk menitipkannya di tempat ayahku
agar dia bisa melupakan seluruh aktivitasnya.
“Loria, apa kau tidak ingin bangun sebentar
saja? Apa kau tidak rindu pada sekolah? Apa kau tidak ingin menceramahi ku yang
selalu terlambat makan? Ayolah, Loria. Aku rindu saat kita berbincang-bincang
mengenai masa depan atau pun tentang pria yang kau sukai tapi dia tidak peka
sedikitpun. Apa kau tidak ingin pergi ke taman dan makan es krim bersama ku
lagi? Aku rindu saat kita melakukan hal konyol dan akhirnya menertawakan diri
kita sendiri. Aku rindu dengan semua kebersamaan kita. Aku kesepian Loria. Aku
mohon bangunlah.” Aku genggam tangannya. Air mata ku akhirnya jatuh lagi. Semua
kenangan ku dengannya, yang selama ini sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri,
kembali terputar bagai film di benakku. Aku menangis tertahan. Aku tidak ingin
Loria mendengar isakku, aku tidak ingin Ia terbebani.
Aku tidak tahu sudah berapa air mata yang aku
keluarkan. Yang aku tahu adalah aku ingin Loria segera sadar. Aku ingin dia
segera sembuh dan kembali seperti dulu. Tidak seperti sekarang. Setelah
menjalani operasi, tubuhnya yang tertidur tak berdaya begitu pucat dan lemah.
Berbagai peralatan dan mesin ditancapkan ketubuhnya. Mesin disampingnya menjadi
pananda detak jantungnya yang semakin melemah. Tapi, kami tetap tidak
kehilangan harapan. Kami tahu Loria pasti kuat. Dokter terus berusaha untuk
menyelamatkannya. Meskipun sebelumnya mereka tahu, bahwa kemungkinan operasi
itu berhasil adalah 30%.
“Kana, sebaiknya kau pulanglah, nak. Ini sudah
malam. Sebaiknya kau istirahat.” Ibu Loria menepuk pundakku. Mengisyaratkan
kesungguhan.
“Tapi, ma’am....”
“Percayalah pada kami, dia akan baik-baik
saja. Sekarang pulanglah, kau perlu istirahat, jangan korban kan kesehatanmu,
Loria tidak akan senang jika dia tahu. Orangtua mu sudah menunggu diluar.” Ibu
Loria benar, aku bahkan tidak makan
apapun dari tadi siang. Orangtua ku datangpun aku tidak sadar.”
“Baik, ma’am. Terimakasih atas perhatiannya.
Aku pulang.” Aku tersenyum padanya
sebelum melangkah keluar. Dia balas tersenyum.
Keesokan harinya, aku berjunjung lagi. Tapi,
apa yang aku dapatkan?? Aku mendapatkan kamar Loria dan tempat tidurnya rapi. Kemana
mereka? Oh tidak, pikiran yang aneh mulai merasuki benakku.
Aku bertanya pada perawat yang aku kenal, kaki
ku lemas saat mendengar bahwa Loria telah pergi. Orangtua Loria telah
membawanya ke Beijing untuk diselenggarakan. Aku tidak percaya.
Kenapa......kenapa mereka tidak mengabari ku sedikitpun? Aku terjatuh ke
lantai. Lututku terasa lemah. Tangisku pun pecah. Perasaanku campur aduk, aku
kalut. Temanku telah pergi.
“Loria....hiks...hiks...” Lebih dari 30 menit
aku meangis, perawat tadi terus berusaha menenangkanku. Hingga akhirnya dia
teringat.
“Ah, sebentar, dik.” Dia berjalan meninggalkan
ku dan kembali tak lama setelah itu.
“Ini, titipan dari orangtua Loria.” Surat. Aku
tidak langsung membuka surat itu. Aku memilih untuk menenangkan diriku dirumah.
Kamar ini terasa sepi sekarang. Meskipun kami
hanya tinggal berdua selama 2 tahun, tapi suasana nya terasa hangat. Dan
sekarang, Loria telah pergi. Kamar ini terasa dingin. Aku membuka surat itu.
Dear
Kana,
Hai
Kana? Maaf jika aku tidak bersama mu lagi saat kau membaca surat ini. Apa kau
marah karena aku tidak memberitahumu sedikitpun tentang penyakit ku? Maafkan
aku. Aku hanya tidak ingin membuat mu cemas dan merepotkanmu dengan tubuhku
yang semakin hari terasa semakin lemah. Aku datang tidak untuk dikasihani, aku
datang untuk membuat masa-masa terakhirku di dunia ini indah. Dan aku beruntung
bertemu denganmu. Aku sudah menganggapmu sebagai saudara ku sendiri. Ah, kau pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak
bisa ikut latihan dengan mu,kan? Ya, karena tubuhku tidak diizinkan untuk
melakukannya. Itu akan memperburuk keadaan ku.
Dan
sekarang kau harus beradaptasi ya, Kana. Maaf. Aku tidak bisa lagi membangunkan
mu dipagi hari, aku tidak bisa menemani saat kau stress dengan berbagai tugas
mu, haha, kita tidak bisa lagi pergi ke taman dan makan es krim bersama, maaf
aku sudah meninggalkan mu.Sekarang kau bisa pergi ke sekolah tanpa harus
menunggu ku yang selalu saja membuat mu kesal. Kau sekarang tidak perlu
repot-repot menceramahi ku lagi yang malas olahraga.
Apa kau
ingat saat kita membicarakan masa depan kita? Aku sangat senang melihat
semangat mu yang tak habis-habisnya tiap hari. Semoga kau bisa menggapai
cita-citamu, Kana. Saat itu aku hanya dapat tersenyum, karena aku bahkan sudah
pasrah, apakah aku akan mempunyai masa depan atau tidak. Tetap semangat, Kana.
Aku selalu mendukungmu. :D
Love,
Loria.
Lagi-lagi aku menangis.
“Kenapa kau harus berlagak sok kuat, Ria?” Aku
tersenyum, miris. Temanku harus berjuang sendiri. Kenapa aku tidak peka dengan
kondisinya. Aku merutuki diriku sendiri. Teman macam apa aku.
5 tahun kemudian....
California, 10 Juni 2018
Hari ini begitu cerah. Jam kuliah ku telah
selesai. Aku memutuskan untuk berkunjung ke taman kota sebentar, sekedar untuk
menghilangkan penat. Aku memilih tempat duduk yang nyaman, di bawah pohon. Aku
hirup udara segar agar memenuhi paru-paruku. Tiba-tiba dada ku sesak. Taman,
hal yang mengingatkan ku pada sosok teman yang telah meniggalkan ku 5 tahun
lalu. Hampir saja air mata ku jatuh lagi, tapi aku tahan.
“Ah, ya ampun. Kenapa dosen itu kejam sekali
menyuruhku membawa buku sebanyak sebagai referensi. Aku kan bisa menggunakan
buku ku yang ada dirumah saja. Merepotkan.”
Aku terkejut, suata itu. Suara yang sangat
familiar. Aku mengangkat kepala ku melihat siapa pemiliknya. Oh, tuhan. Aku
segera bangkit dan berlari mengejarnya.
Aku tepuk pundaknya. Saat itu juga air mataku
kembali jatuh.
“Loria Aston??” Ia tampak terkejut dan
akhirnya tersenyum.
_THE END_
2 Kommentarer:
~*O*)~.....
Big thanks for commenting...but......
why did you always put emoticon?? don't you have anything ti say even just a word, dude?? =___= *sobs
Post a Comment