Welcome to my another World. You can find "another" me right here LOL

March 02, 2014

[Cerpen] Goodbye My Friend



Happy Sunday Everyone~~~~
Setelah lama tidak mem-posting, kali ini saya ingin berbagi cerpen. FYI, cerpen ini adalah cerpen PERTAMA saya yang berhasil dibuat sampai end. *prok prok prok
Oh ya, FYI lagi, ini cerpen terinspirasi dari salah satu ff (FanFiction) yang saya baca dari Asianfanfic. Tapi saya ga plagiat ya.

Oke, udah itu aja cuap-cuapnya.

Sorry kalo cerpen nya jelek ya~~

Selamat membaca dan berikan komen ya~~~

********

02 September 2013

KRRIIINNNGGG!!!!!
Jam digital yang ada diatas meja itu berdering, menunjukkan pukul 6.30. Di dalam kamar itu terlihat seorang gadis dengan malasnya menjangkau dan mematikan jam yang terkutuk itu. Merasa terusik dengan suara nyaring yang hampir saja merusak gendang telinganya. Dengan badan yang dipaksa untuk bangun, Ia melihat ke arah jam terkutuk itu, dan....
“Astaga!!!! 6.30??!! Aaaaaa......!!!!” Gadis itu langsung terbirit ke kamar mandi, bersiap dan dalam waktu 10 menit sudah lengkap dengan pakaian sekolah nya. Pada seragam gadis itu terlihat badge dengan nama Kana Juanda.
Ia segera keluar dari apartemen nya dan bergegas menuju halte. Haah....nasib baik, bus menuju sekolahnya datang tepat saat Kana sampai di halte.

Kana memilih tempat duduk yang paling nyaman. Tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di pikirannya. Matanya menerawang. Dia merasa kesepian. 2 minggu yang lalu, teman baiknya, pergi meninggalkannya.

10 Juli 2013

Kana’s POV

“Haaaah........aku capek. Kelas olahraga hari ini menguras banyak tenaga. Huufftt........” Loria langsung menghempaskan badannya ke atas kasur. Dia benar-benar tampak letih dan......sedikit pucat.
“Dasar cewek lemah. Makanya, rajin latihan fisik donk. Biar badanmu kuat dikit. Sudah berkali-kali ku ajak latihan, kau menolak terus.”
“Sudah aku bilang kan, aku tidak bisa. Aku tidak akan bisa berteman dengan hal-hal fisik seperti itu. Tubuhku tidak kuat sepertimu” Aku selalu tidak mengerti dengan perkataannya ini, kenapa dia tidak bisa latihan sedikitpun. Dia tidak bisa bekerja dengan hal berat. Dan dia akan selalu pucat setelah kelas olahraga. Sudah lama kami tinggal bersama tapi dia tidak pernah memberi penjelasan lebih jauh tentang hal itu.

Ya, kami tidak tinggal dengan orangtua kami. Aku dan orangtua ku membuat kesepakatan, aku akan tinggal di sebuah apartemen sendirian saat masuk SMA. Kata mereka, ini akan membantu ku dalam belajar hidup mandiri demi masa depanku. Yaaah, katanya biar jadi ibu yang baik dimasa depan. Aku rasa mereka terlalu berpikir jauh. Tapi, aku juga tidak menyangkal, toh ini demi kebaikanku juga. Selain itu, aku bersedia tinggal di apartemen karena orangtuaku selalu pulang pergi keluar negri untuk berbisnis. Sebagai anak tunggal, aku merasa jenuh dirumah sendirian. Setidaknya dengan tinggal di daerah lain, aku bisa benar-benar bisa menyendiri, terlebih aku tidak begitu suka keramaian.  Dan akhirnya mereka memilih sebuah apartemen yang tidak terlalu jauh dari Sekolahku. Dan, Loria Aston, gadis keturunan Inggris-Indonesia, putri dari teman dekat ayahku, memutuskan untuk tinggal di Indonesia dan melanjutkan sekolah di Jakarta. Aku yang sudah tinggal di apartemen sendiri saat itu, dengan senang hati menerima kedatangan Loria. Dan dengan kedatangan Loria, menurutku tidak buruk. Loria merupakan gadis yang periang dan figur seorang kakak yang baik, harapan ku yang ingin memiliki seorang kakak terwujud dengan adanya Loria. Aku senang tinggal dengannya.

“Hey, Loria kau tampak pucat, apa kau sakit?”
“Benarkah? Ah, aku rasa ini karena terlalu kelelahan saja. Aku akan minum vitamin nanti. Jangan khawatir.” Dia tersenyum, tapi aku tetap tidak lega dengan jawabannya. Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Dia terlalu sering pucat. Mana mungkin aku tidak khawatir.

18 Agustus 2013

Semua pertanyaan yang ada dikepala ku terjawab sekarang. Sekarang aku sedang berada di Rumah Sakit, tepatnya dikamar dimana Loria dirawat. Sepulang sekolah aku selalu mampir kesini. Sudah sebulan semenjak pertama kali Ia dibawa ke RS ini. Dan sudah 3 minggu dia tidak sadarkan diri, koma.

Beberapa hari setelah dia mengeluh lelah dan terlihat pucat, kondisinya mendadak drop. Aku yang tidak tahu apa-apa langsung panik dan menelpon orangtuaku. Untunglah mereka sekarang sedang berada di Jakarta, dan mereka datang seiring dengan sirine ambulance. Loria langsung dilarikan ke UGD. Aku benar-benar panik. Yang dapat aku lakukan saat itu hanya berdo’a, berharap yang terbaik untuk Loria.

Ternyata, itulah alasan kenapa Ia terlihat sangat lelah dan sering terlihat pucat. Kanker batang otak yang dideritanya semakin berkembang. Ternyata selama ini, secara diam-diam dia meminum semua obat yang rutin dikirimkan oleh ayahnya. Dia tidak memilih kemo untuk pengobatannya. Karena, kata ayahnya itu hanya akan memperburuk kondisinya. Aku tidak menyangka, Loria yang begitu riang dan selalu tersenyum  pada semua irang ini sedang berjuang melawan kanker yang tengah bersarang dalam dirinya. Kedatangannya ke Indonesia pun ternyata adalah salah satu upaya agar Ia dapat meninggalkan semua aktivitasnya. Karena Loria adalah murid yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan. Itu tidak baik bagi kesehatannya. Ayahnya memutuskan untuk menitipkannya di tempat ayahku agar dia bisa melupakan seluruh aktivitasnya.

“Loria, apa kau tidak ingin bangun sebentar saja? Apa kau tidak rindu pada sekolah? Apa kau tidak ingin menceramahi ku yang selalu terlambat makan? Ayolah, Loria. Aku rindu saat kita berbincang-bincang mengenai masa depan atau pun tentang pria yang kau sukai tapi dia tidak peka sedikitpun. Apa kau tidak ingin pergi ke taman dan makan es krim bersama ku lagi? Aku rindu saat kita melakukan hal konyol dan akhirnya menertawakan diri kita sendiri. Aku rindu dengan semua kebersamaan kita. Aku kesepian Loria. Aku mohon bangunlah.” Aku genggam tangannya. Air mata ku akhirnya jatuh lagi. Semua kenangan ku dengannya, yang selama ini sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri, kembali terputar bagai film di benakku. Aku menangis tertahan. Aku tidak ingin Loria mendengar isakku, aku tidak ingin Ia terbebani.

Aku tidak tahu sudah berapa air mata yang aku keluarkan. Yang aku tahu adalah aku ingin Loria segera sadar. Aku ingin dia segera sembuh dan kembali seperti dulu. Tidak seperti sekarang. Setelah menjalani operasi, tubuhnya yang tertidur tak berdaya begitu pucat dan lemah. Berbagai peralatan dan mesin ditancapkan ketubuhnya. Mesin disampingnya menjadi pananda detak jantungnya yang semakin melemah. Tapi, kami tetap tidak kehilangan harapan. Kami tahu Loria pasti kuat. Dokter terus berusaha untuk menyelamatkannya. Meskipun sebelumnya mereka tahu, bahwa kemungkinan operasi itu berhasil adalah 30%.

“Kana, sebaiknya kau pulanglah, nak. Ini sudah malam. Sebaiknya kau istirahat.” Ibu Loria menepuk pundakku. Mengisyaratkan kesungguhan.
“Tapi, ma’am....”
“Percayalah pada kami, dia akan baik-baik saja. Sekarang pulanglah, kau perlu istirahat, jangan korban kan kesehatanmu, Loria tidak akan senang jika dia tahu. Orangtua mu sudah menunggu diluar.” Ibu Loria  benar, aku bahkan tidak makan apapun dari tadi siang. Orangtua ku datangpun aku tidak sadar.”
“Baik, ma’am. Terimakasih atas perhatiannya. Aku pulang.”  Aku tersenyum padanya sebelum melangkah keluar. Dia balas tersenyum.

Keesokan harinya, aku berjunjung lagi. Tapi, apa yang aku dapatkan?? Aku mendapatkan kamar Loria dan tempat tidurnya rapi. Kemana mereka? Oh tidak, pikiran yang aneh mulai merasuki benakku.

Aku bertanya pada perawat yang aku kenal, kaki ku lemas saat mendengar bahwa Loria telah pergi. Orangtua Loria telah membawanya ke Beijing untuk diselenggarakan. Aku tidak percaya. Kenapa......kenapa mereka tidak mengabari ku sedikitpun? Aku terjatuh ke lantai. Lututku terasa lemah. Tangisku pun pecah. Perasaanku campur aduk, aku kalut. Temanku telah pergi.

“Loria....hiks...hiks...” Lebih dari 30 menit aku meangis, perawat tadi terus berusaha menenangkanku. Hingga akhirnya dia teringat.

“Ah, sebentar, dik.” Dia berjalan meninggalkan ku dan kembali tak lama setelah itu.
“Ini, titipan dari orangtua Loria.” Surat. Aku tidak langsung membuka surat itu. Aku memilih untuk menenangkan diriku dirumah.

Kamar ini terasa sepi sekarang. Meskipun kami hanya tinggal berdua selama 2 tahun, tapi suasana nya terasa hangat. Dan sekarang, Loria telah pergi. Kamar ini terasa dingin. Aku membuka surat itu.

Dear Kana,

Hai Kana? Maaf jika aku tidak bersama mu lagi saat kau membaca surat ini. Apa kau marah karena aku tidak memberitahumu sedikitpun tentang penyakit ku? Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin membuat mu cemas dan merepotkanmu dengan tubuhku yang semakin hari terasa semakin lemah. Aku datang tidak untuk dikasihani, aku datang untuk membuat masa-masa terakhirku di dunia ini indah. Dan aku beruntung bertemu denganmu. Aku sudah menganggapmu sebagai saudara ku sendiri.  Ah, kau pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa ikut latihan dengan mu,kan? Ya, karena tubuhku tidak diizinkan untuk melakukannya. Itu akan memperburuk keadaan ku.

Dan sekarang kau harus beradaptasi ya, Kana. Maaf. Aku tidak bisa lagi membangunkan mu dipagi hari, aku tidak bisa menemani saat kau stress dengan berbagai tugas mu, haha, kita tidak bisa lagi pergi ke taman dan makan es krim bersama, maaf aku sudah meninggalkan mu.Sekarang kau bisa pergi ke sekolah tanpa harus menunggu ku yang selalu saja membuat mu kesal. Kau sekarang tidak perlu repot-repot menceramahi ku lagi yang malas olahraga.

Apa kau ingat saat kita membicarakan masa depan kita? Aku sangat senang melihat semangat mu yang tak habis-habisnya tiap hari. Semoga kau bisa menggapai cita-citamu, Kana. Saat itu aku hanya dapat tersenyum, karena aku bahkan sudah pasrah, apakah aku akan mempunyai masa depan atau tidak. Tetap semangat, Kana. Aku selalu mendukungmu. :D

Love,
Loria.

Lagi-lagi aku menangis.
“Kenapa kau harus berlagak sok kuat, Ria?” Aku tersenyum, miris. Temanku harus berjuang sendiri. Kenapa aku tidak peka dengan kondisinya. Aku merutuki diriku sendiri. Teman macam apa aku.

5 tahun kemudian....

California, 10 Juni 2018

Hari ini begitu cerah. Jam kuliah ku telah selesai. Aku memutuskan untuk berkunjung ke taman kota sebentar, sekedar untuk menghilangkan penat. Aku memilih tempat duduk yang nyaman, di bawah pohon. Aku hirup udara segar agar memenuhi paru-paruku. Tiba-tiba dada ku sesak. Taman, hal yang mengingatkan ku pada sosok teman yang telah meniggalkan ku 5 tahun lalu. Hampir saja air mata ku jatuh lagi, tapi aku tahan.

“Ah, ya ampun. Kenapa dosen itu kejam sekali menyuruhku membawa buku sebanyak sebagai referensi. Aku kan bisa menggunakan buku ku yang ada dirumah saja. Merepotkan.”

Aku terkejut, suata itu. Suara yang sangat familiar. Aku mengangkat kepala ku melihat siapa pemiliknya. Oh, tuhan. Aku segera bangkit dan  berlari mengejarnya.

Aku tepuk pundaknya. Saat itu juga air mataku kembali jatuh.
“Loria Aston??” Ia tampak terkejut dan akhirnya tersenyum.



_THE END_

2 Kommentarer:

Novrizen

~*O*)~.....

Unknown

Big thanks for commenting...but......

why did you always put emoticon?? don't you have anything ti say even just a word, dude?? =___= *sobs

Post a Comment